Engkau Pagi

Selamat pagi, Pagi.

Advertisements

Mengeja Bahagia

Mengeja bahagia?  Semacam: be a ba, ha a ha, ge i gi, a, gia, b-a-h-a-g-i-a, bahagia. Begitu kah? Ini bukanlah tulisan seorang pakar bahasa. Hanya manusia biasa yang mencoba melihat lembaran yang sudah-sudah. Rasanya bahagia itu semacam perasaan penuh di dada, yang sulit diungkapkan dengan kata, terwakilkan dengan senyuman yang walau ditahan tetap tidak bisa.... Continue Reading →

Sepasang Matamu

Hari ini mataku menghangat, menemukan sepasang matamu yang sayu. Mata dengan senyuman yang sendu.  Kau bilang pose itu bersusah payah kau ambil, demi foto yang tak terfokus di wajahmu. Seperti susah payahmu menghadapi hidup agar sekelilingmu tak terfokus pada nestapa di matamu.  Aku pernah lalai menangkap sinar matamu. Lalu egois memaksanya menjadi secerah yang aku... Continue Reading →

Pertengahan Ramadhan: Mendengarkan

Hari ini, seperti kemarin-kemarin, saya mual muntah tanpa sebab, lagi. Saya tahu apa yang terjadi pada diri saya, tapi gagal mengatasinya. Tidak apa-apa, dinikmati saja dulu, pura-pura baik-baik saja, sampai lupa sedang pura-pura. Itu yang selalu kau katakan, kan? Salah satu hal yang membuat mual ini berkurang adalah bertemu orang tua dan teman-teman. Tapi malangnya,... Continue Reading →

Buat Inaq Oche-ku

Dear Mba Vee, Inaq Oche-ku.  Kau sedang di rumah sakit sekarang, menanti si oche yang sudah lama kau bawa kemana-mana. Sembilan bulan lalu, aku belum tahu apa itu oche, sampai kau datang dengan perut belum belentungmu, dan memaksa agar kau dipanggil Inaq Oche. Dalam bahasa Sasak, inaq berarti ibu, dan oche berarti calon bayi, katamu.  Dua belas bulan yang lalu, kau mengundang kami... Continue Reading →

Kita angin

"Kau begitu manis, membuat haus pahitku yang miris. Kemarilah, mendekatlah, biar menyatu napas kita," ucap angin pada embun dini hari. Mereka saling peluk, menghangat sejenak, berhembus, lalu mendebu. Menyisakan dingin yang ngilu. 🍃 Sudah 3 hari, kudapati embun telah tandas disesap mentari. Ia yang datang terlalu pagi, ataukah aku yang terlalu lelap menanti? Semalam aku... Continue Reading →

7 Ramadhan: Mengenang Puisi

A very first poem that always reminds me of you. Your wise words. Thank you, Mister. KITABMU Oleh : Benn Rosyid Melangkah sambil bersiul. Pergi mengaji di surau kampung. Tangan kiri menjaga sarung agar tak jatuh Tangan kanan mendekap kitab suci yang sudah usang. Sesekali tangan kiri memperbaiki kopiah hitam yang sudah kekuningan. Jatuhlah sarung... Continue Reading →

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑