Mengeja Bahagia

Mengeja bahagia? 

Semacam: be a ba, ha a ha, ge i gi, a, gia, b-a-h-a-g-i-a, bahagia. Begitu kah?

Ini bukanlah tulisan seorang pakar bahasa. Hanya manusia biasa yang mencoba melihat lembaran yang sudah-sudah. Rasanya bahagia itu semacam perasaan penuh di dada, yang sulit diungkapkan dengan kata, terwakilkan dengan senyuman yang walau ditahan tetap tidak bisa.

Perasaan yang bisa muncul tiba-tiba karena diberi dan memberi, dari semua, kepada semua.

Ia selalu muncul ketika menyadari pemberian dan kemudahan dariNya yang datang dari segala arah dan warna: arah yang tak diduga, warna hitam, putih, merah muda, semuanya.

Hari ini ia hadir melalui sepiring nasi, tumis kangkung, ikan asin, dan sambal terasi buatan sendiri. Lengkap dengan seorang kawan yang turut lahap menikmati.

Dulu, waktu melihat ayah pertama kali membelikan sepeda, perasaan itu pernah menghiasi hari-hari yang kurang lega. Perasaan yang sama saat menerima hadiah lomba menggambar yang sudah lupa kapan tepatnya, saat memegang buku pertama yang dibeli sendiri, juga saat memegang mok yan jong dan busur panah untuk pertama kali. 

Lalu ia datang kembali, saat melihat senyum Mamak karena diambil alih berkardus-kardus dagangan yang membebani punggungnya yang menua, atau melihat tangis haru Pak Entahsiapa yang mendapat tambahan biaya buat berobatnya, atau tawa renyah Nenek Pinggirjalan karena dagangannya habis diborong mahasiswa. Juga saat menatapi para bocah dengan buku berwarna di tangan-tangan mungil nan polosnya.

Terakhir kali, ia muncul dalam angan-angan yang menggila. Dalam harapan untuk mengakhiri semuanya, lalu menjadi hantu yang bisa bebas terbang (?) kemana saja. Menuju tempat yang selalu ingin didiami lebih lama: toko buku favorit kita. Membaca buku-buku disana sambil duduk, berdiri, berbaring, selonjoran, kayang, menjuntaikan kaki diantara lemari-lemarinya, sambil sesekali menggoda pengunjungnya, tanpa perlu terlihat siapa-siapa. Tanpa perlu memikirkan batas waktu buat pekerjaan lainnya. Tanpa diburu kemungkinan-kemungkinan dunia yang fana, yang tak pasti esok lusa. Sepuasnya. 

Saban hari, ia datang saat Kau di sekitar sedang bercanda, bahkan saat tinggal hanya bayanganmu yang tersisa.

🍃🍃🍃

Tulisan super pendek ini dibuat untuk meramaikan givaway yang diadakan Bang Slamet dan Kak Rifa πŸ™‚

Batasnya tanggal 2 Juli, teman-teman yang lain ayo ikut jugaa 😆😆

#Mengejabahagia #Maknabahagia

Gambar via pinterest.com

Sepasang Matamu

Hari ini mataku menghangat, menemukan sepasang matamu yang sayu. Mata dengan senyuman yang sendu. 

Kau bilang pose itu bersusah payah kau ambil, demi foto yang tak terfokus di wajahmu. Seperti susah payahmu menghadapi hidup agar sekelilingmu tak terfokus pada nestapa di matamu. 

Aku pernah lalai menangkap sinar matamu. Lalu egois memaksanya menjadi secerah yang aku mau. Menggosoknya dengan terlalu, agar lebih berkilau, pikirku. Tak peduli ia menjadi berair, merah, dan tak lagi seterang dulu. 

Belum lagi pernik kekanakan yang kubawa, kutempel-tempel di lengkung kelopakmu, lalu di bulu mata dan alismu. Ah, kupikir kamu suka. Ternyata aku hanya memikirkan diriku, agar matamu tampak indah di mataku. 

Lalu dengan tangan tak berseni-ku, kulukis segaris rindu di kelopakmu. Berharap meninggalkan lukisan indah di matamu yang lelah. Tapi lagi-lagi aku salah. Garis ini mengotori jejak rapi yang telah sejak lama kau susuri, dengan tatapmu yang tajam dan sepi.

Sudah terlalu lama kau menderita. Seluruh tubuhmu penuh bekas luka. Tersisa matamu yang ceria, dan aku mengacaukannya. Menyeruak nyeri di dada melihatmu terluka, menahan sakitnya. Lalu kau membayang di pelupuk mata.

Matamu sudah indah, serupa puisi yang sering kau gubah. Memolesnya hanya akan membuat susah, mungkin tak akan ada yang berubah. 

Sungguh, maafkan aku yang selalu salah.

Aku mohon, berbahagialah. 

Buat Inaq Oche-ku

Dear Mba Vee, Inaq Oche-ku. 

Kau sedang di rumah sakit sekarang, menanti si oche yang sudah lama kau bawa kemana-mana. Sembilan bulan lalu, aku belum tahu apa itu oche, sampai kau datang dengan perut belum belentungmu, dan memaksa agar kau dipanggil Inaq Oche. Dalam bahasa Sasak, inaq berarti ibu, dan oche berarti calon bayi, katamu. 

Dua belas bulan yang lalu, kau mengundang kami ke acara ijab qabulmu. Kau, acara yang sederhana, dan souvenir sederhana: sebuah kapsul pulpen bertuliskan “jangan lupa bahagia”. Aku selalu ingat, kata-kata itu adalah yang selalu kau ucap setiap kita membagi luka berdua. 

Ah ya, pulpen itu, yang bagiku sangat berharga itu, akhirnya kuberikan pada seseorang yang juga berharga. Semoga ia selalu bahagia. 

Dua puluh empat bulan yang lalu, kita sering bercerita. Tentang kita yang ingin bersekolah sebanyak-banyaknya. Tentang rencana kita ke tempat terpencil, Papua misalnya. Tentang hal-hal bodoh yang ingin kita lakukan bersama. Tapi kau diambil orang, ternyata. Rencana sebatas rencana, melihat bahagiamu di pelaminan sana, terasa jauh lebih lega. 

Malam ini, kau sedang berjuang melawan rasa sakit, perjuangan yang dijanjikan surga. Semangaat, inaq ochee. Buat engkau dan bayimu, hanya doa yang kupunya. Semoga kalian berdua bisa melewatinya, dan besok kita bisa kembali bercerita tentang dia yang mirip kau atau ayahnya. Sehat-sehat yaa, kalian berdua. Aamiin 💕 

7 Ramadhan: Mengenang Puisi

A very first poem that always reminds me of you. Your wise words. Thank you, Mister.

KITABMU

Oleh : Benn Rosyid

Melangkah sambil bersiul. Pergi mengaji di surau kampung.

Tangan kiri menjaga sarung agar tak jatuh

Tangan kanan mendekap kitab suci yang sudah usang.

Sesekali tangan kiri memperbaiki kopiah hitam yang sudah kekuningan.

Jatuhlah sarung yang tak pernah disetrika itu.

Biarlah, yang penting kitabmu tidak jatuh saja, katanya.

Melangkah sambil bersiul.

Itu sudah berlalu lama, sudah tidak begitu lagi sejak diberi ijazah. 

.

Satu dari semua menyimpan kitab itu di hatinya. Di ucap dan lakunya.

Yang lainnya menyimpan di lemari sepanjang abad.

Agar elok kelihatan perabotannya.

Yang lainnya menyimpan di saku baju setiap hari.

Agar dikira islami.

.
Biarlah,

Yang penting kitabmu tidak hilang saja, katanya.

.

16 Februari 2012
.

Sumber gambar

3-6 Ramadhan: Hari-hari yang terlewatkan

Welcome, Juni πŸ™‚

Waaa, sudah hampir seminggu Ramadhan. Ada beberapa kegiatan yang rasanya ingin ditulis disini, dibuat draft-nya, sambil blogwalking, dan.. Taraa! Minder sendiri hahaha. Tulisan teman-teman yang lain bagus-baguus maasya Allah. Tapi coba menguatkan diri, lagi, tulis lagi.

Bagaimana kalau jelek? Isinya kurang bermanfaat? “Ndak papa, kan belajar,” kata Kirana, saban hari.

👣👣👣

NgabubuRead bareng KCB

​Hari ahad sore, saya dan Lia ikut ngabubuRead bareng KCB (Kelompok Cinta Baca) Mataram. Membahas bukunya alm. Nurcholis Majid yang berjudul Dialog Ramadhan Bersama Cak Nur. 

Ada Bang Ical sebagai pemandu sekaligus nara sumber, Kak Yana sebagai moderator, dan beberapa orang peserta. Hadir juga Kak Iin, Kak Bunga, Bang Darman, Bang Jo, Wahyu, dan banyak yang lainnya. 

Diskusinya santai, tapi pembahasannya beraat. Saya yang ‘bacaan berat’nya masih nol, awalnya khawatir tidak bisa mengikuti. Tapi, demi melihat wajah-wajah teduh teman-teman ini, terbuang jauh-jauh prasangka buruk itu.

Kali ini dibahas bab awal, tentang hikmah puasa. Pertama-tama kami membaca bersama, dibacakan bergilir beberapa poin sesuai arahan Bang Ical, kemudian disimpulkan sambil Bang Ical menambahkan berbagai bahan renungan yang asyik terkait dengan puasa. Tak lupa Abang ketje ini menuliskan poin-poin penting di papan tulis.

Selanjutnya peserta diskusi juga menyampaikan pendapat. Mulai dari Bang Dirman, Kak Iin, Bang Jo, dan saya yang sedikit geje. Ndak papa, ndak papa. Geje adalah ketje yang tertunda. Hehehe.

Orang-orang macam mereka ini, yang isi kepala dan pikirannya penuh namun tetap bebas, bisa dengan begitu terbuka dan runut menyampaikan isi kepala, adalah yang selalu membuat saya kagum dan menciut macam ikan teri.

Banyak hal yang saya dapatkan dari diskusi kali ini. Kosa kata baru, hikmah-hikmah, dan pemahaman-pemahaman baru.

Senang bisa menghabiskan waktu bersama KCB seperti ini. Menemui kawan-kawan disini seperti candu yang menyejukkan hati. Hei kalian, jangan bosan menemani, ya :’)

👣👣👣

Hilang

Malam selasa, malam yang sendu, menyadarkan saya pada sesuatu.

Jadi sepulang tarawih di masjid, saya melenggang menuju pintu kamar kost dengan santai. Sampai kemudian menyadari sesuatu. Sesuatu untuk membuka pintu itu, yang biasanya saya genggam itu, yang saya beri gantungan kayu berukir nama saya itu, tidak ada. Lutut ini lemas seketika. 

Sudah jam setengah 11 malam, saya tergupuh kembali ke masjid, mencari kunci kamar. Bertanya kepada yang bisa ditanyai. Tapi sia-sia. Akhirnya saya menyerah. Tidak apa-apa, nanti kalau rezeki pasti ketemu, kan?

Jadilah saya menginap di kamar sebelah. Terbayang hape didalam sana. Teringat diskusi senin malam di Grup Obrolin yang terbayang keseruannya. Sejenak terbetik rasa hampa. Saya memang tidak banyak menyapa, tapi selalu menyimak keseruan teman-teman disana. Membayangkan ekspresi wajah mereka saat grup dilanda huru hara. 

Kadang terpikir mengetik begini:

AskApakah di dunia nyata teman-teman seramai ini? Aaaa, semoga bisa mensejajari kalian yaa :’)

Tapi urung, lantaran maluterlalumalu.

Ah ya, kembali ke kunci kamar. Syukurlah keesokan harinya ada bapak tukang kunci yang gagal membikinkan kunci tapi berhasil mencongkelkan jendela untuk saya loncati, masuk kedalam sana. Ah, terimakasih ya, Pak. 

Saya jadi menyadari kembali sesuatu. Sesungguhnya, apapun yang saya punya dan kenal sekarang ini, entah benda, entah seseorang, entah badan dan isi kepala, semuanya hanyalah titipan yang sementara. Kalau Dia mau Mengambil, dalam sepersekian detik sudah tidak ada.

Maka sejak beberapa waktu lalu terpikir untuk mencoba tidak ketergantungan dengan apa-apa dan siapa-siapa selain Dia.

Belajar sendiri kemana-mana, kalau masih bisa tidak merepotkan orang lain, maka jangan membuat orang lain terganggu waktunya. Sebaliknya, membantu orang jangan pilih-pilih juga. Yah, saya masih belum bisa menyeimbangkan yang ini. Pelan-pelan, nanti semoga bisa membantu siapa saja.

Saya merasa masih alay. Apa-apa dibawa perasaan. Membuat status galau-galauan. Maka sekarang sedang belajar mengendalikan. Mulai dari membiarkan hape apa adanya. Walpaper diganti sekali saja, media sosial dibuka saat perlu-perlu saja. Foto profil biarkan yang itu-itu saja. 

Agak lebai memang, tapi ini usaha saya belajar tidak ketergantungan. Beginipun masih sering kelolosan, sampai lupa mandi dan makan, asik buka wasap dan gugling-an.

Belajar berpakaian juga perlu. Berusaha tidak memakai pakaian berlebihan. Relatif memang. Yang mewah menurut kelompok A bisa jadi sederhana menurut kelompok B. Maka saya coba sisakan beberapa potong pakaian saja. Yang wearable untuk bekerja, jalan-jalan, dan cukup sopan untuk kondangan. Sisanya dikeluarkan saja. 

Tapi ya itu, yang masih candu tinggal satu: bertemu KCB dan buku-buku.

👣👣👣

Pindahan

Kost yang hilang kuncinya itu akhirnya saya lepaskan. Berpindah ke sebuah kamar didalam gang dekat sungai di Ampenan. 

Tapi sepertinya dalam situasi seperti inilah terasa perihnya sendirian. Mulai dari keliling bertanya dan mencari, sampai akhirnya pindahan. Gangnya sempit, tidak bisa dimasuki mobil. Jadilah diangkut dengan motor. Bayangkanlah, mengangkut barang-barang dengan motor sendirian, sendirian. Ah, saya jadi ngeri mendengar suara sendiri.

Sekali lagi, tidak apa-apa, ini bagian dari pelajaran. Pelajaran kekuatan dan ketangguhan. Pada akhirnya, di suatu masa, kita akan menghadapi semuanya sendirian, kan?

Mataram, 1 Juni 2017

2 Ramadhan: Berbuka dan Membuat Naqi’

Nikmatnya berbuka itu, bukan sekadar karena makanannya yang enak. Kalau ini yang membuat nikmat, tentu orang-orang yang makan makanan tertentu -yang rasanya berbanding lurus dengan harga- saja yang bisa merasakan. 

Tapi ternyata, mereka yang berbuka di sebuah gubuk kecil bersama keluarga, dengan sepotong kurma dilanjut nasi dengan sayur bening dan ikan asin plus sambal terasi-pun, merasakan indahnya momen berbuka. 

Lagipula enak itu relatif, kan?
Jadi bukan makanannya, tapi sensasinya: rasa segar dari seteguk air setelah tenggorokan kering seharian, rasa lega dari sepotong kurma setelah lambung kerontang sejak subuh menjelang. Ditambah ‘latihan’ menahan banyak hal. Sensasi yang beda.

.

Kemarin, hari pertama berbuka, diisi dengan reuni kecil. Saya, Lia, Ita, dan Insan. Kami makan seadanya: kurma, lalu nasi, sepotong ayam goreng, sambal goreng buncis, dan pelecing kangkung, makanan khas Lombok itu.  

Kami tarawih di Masjid Hubbul Wathan, lagi, dan sempat melihat-lihat tempat dipajang benda-benda kuno peninggalan sejarah kebudayaan Islam di NTB. Ada bazar buku dan foodcourt juga yang digelar sejak sore. Sepertinya akan berlangsung sepanjang ramadhan, dengan tema Khazanah Ramadhan. 

Kami hanya melihat-lihat, karena seperti biasa, tidak bawa uang dan hape. Hehehe. Tidak apa-apa, melihat saja cukup. Apa-apa, asalkan rame-rame, memang selalu asik.

Selanjutnya kami berencana membuat naqi’ atau nabidz, minuman yang menyehatkan itu, menggunakan kurma. Resepnya kami kutip dari buku Keajaiban Resep Obat Nabi yang ditulis oleh Pak Joko Rinanto. 

Pertama-tama, mempersiapkan bahan-bahan. Ada kurma 7 buah, dalam buku ini digunakan kurma kering (tamr) yang baik, kulit tidak lengket, tidak terlalu kering, tidak ber-hama. Lalu menyiapkan satu gelas air hangat, di buku tertulis sekitar 400cc. 

Selanjutnya daging kurma dan bijinya dispisahkan, lalu buah kurma dipotong kasar, dimasukkan dalam gelas yang sudah diisi air hangat. Kemudian ditutup rapat dan disimpan dalam suhu kamar selama kurang lebih 12 jam. Minuman ini harus dikonsumsi sebelum 3 hari karena dapat berubah menjadi khamr.

Jika akan disajikan untuk berbuka puasa, bisa dibuat pagi sebelum solat subuh. Kalau direncanakan untuk sahur, maka membuatnya disarankan sore hari. Nanti satu jam sebelum berbuka, bisa didinginkan sebentar dalam kulkas, supaya lebih segar. Jika suka, dapat diblender dan disajikan macam jus.

Selain dengan kurma, naqi’ juga dapat dibuat dari 100 gram kismis, 1 liter air hangat, dengan langkah pembuatan yang hampir sama dengan naqi’ dari kurma. 

Ini contoh gambarnya dari Google+ nya Suara Da’wah. Slurrrpt..

Memangnya apa saja manfaat naqi’ atau nabidz ini? Pak Joko Rinanto menjabarkan dalam bukunya tentang kurma dan manfaatnya, terutama jika dijadikan naqi’. 

Kurma, tumbuhan palem dengan nama latin phonix dactylifera telah diteliti oleh para ilmuwan, dan terbukti kaya protein, serat gula, vitamin, dan berbagai mineral. 

International Journal Food Science Nutrition 2003

Kandungan gulanya baik untuk persediaan energi selama berpuasa. Kandungan vitamin dan mineralnya membantu mengurangi stress, sembelit, dan gangguan otot, serta dalam jangka panjang mencegah penyakit-penyakit kronis seperti gangguan jantung dan diabetes. 

Manfaat kurma bagi perempuan yang sedang hamil dan menyusui juga sudah tidak diragukan lagi. Zat besi dan kalium dalam kurma dapat membantu meningkatkan kualitas air susu ibu.

Tengoklah kisah Bunda Maryam yang diabadikan dalam Al-Qur’an surat Maryam: 25-26. Saat itu, beliau yang sedang hamil besar, hendak melahirkan, disuruh oleh Malaikat Jibril mengguncangkan pohon kurma yang kemudian berjatuhan dan dimakannya. Atas izin Allah, persalinan menjadi lancar.

Berbagai manfaat kurma ini menjelaskan hadits riwayat Bukhari dan Muslim yang berbunyi: “Siapapun yang pagi-pagi makan tujuh buah kurma ajwah maka pada hari itu ia tidak mudah keracunan dan terserang penyakit.”

Nama ‘ajwa’ sendiri diambil dari nama anak dari Salman Al-Farisi. Rasulullah SAW memberi nama kurma yang dimakan beliau dengan nama ajwa untuk mengenang jasa Salman Al-Farisi yang telah mewakafkan lahan kurmanya untuk perjuangan Islam.

Adapun naqi’ atau nabidz, dari penjelasan Pak Joko Rinanto yang bersumber dari kitab Thibbun Nabawi karya Ibnu Qayyim, merupakan perasan buah yang dihalalkan yang dapat diminum sebagai takjil atau setelah makan berat, setelah makanan turun dari lambung. Jadi tidak diminum bersamaan dengan makanan. Sifatnya yang dingin dan manis dapat menguatkan lambung, menutrisi tubuh, dan menyehatkan pencernaan. 

.

Setelah membaca buku ini, kami jadi tidak sabar meminum naqi’ buatan sendiri. 

Jadi, disamping es cendol dan kolak, jangan lupa kita siapkan kurma untuk berbuka ya :):):) 

1 Ramadhan: Tarawih

Tarawih pertama di kota kecil ini, adalah rutinitas yang susah dilepas. Sudah hampir enam Ramadhan, dan selalu lebih banyak disini. Dinikmati saja, sebelum benar-benar dirindui, suatu hari nanti. 

Jadi semalam itu semula sudah merencanakan tarawih pertama ke masjid kampung dekat sini saja, di sekitar kost. Tapi kawan kost, Lia, mengajak ke Islamic Center yang megah itu. Masjid itu kelihatan kubahnya dari atap kost, tapi rasanya cuma sekali kesana, pas nonton acara MTQ Nasional yang keren itu. 

Masjid ini menjadi kebanggaan sebagian masyarakat Lombok. 

Hanya berbekal pakaian muslim, sepasang mukena, dan selembar sajadah, kami berjalan kaki menuju masjid. 

Dalam perjalanan, kami bertemu masjid lain yang lebih kecil dengan jarak sepelemparan batu dari islamic center itu. Tampak hanya beberapa orang mengisi shaf didalam sana. Padahal, dulu, masjid inilah yang paling ramai. 

Sampai di halaman masjid islamic center, serasa di halaman sebuah hotel megah. Mobil mewah berderet-deret, motor juga banyak. 

Memasuki lantai 1 masjid, kami menemukan eskalator, tangga yang berjalan sendiri itu, untuk naik ke lantai dua, ruang solat utamanya. Saya yang orang kampung ternganga-nganga. Ini bagus banget maasya Allah :’)

Masjid ini memiliki nama resmi Masjid Hubbul Wathan. Rasanya baru kemarin diresmikan oleh Bapak Gubernur. Mulai dibangun 2011, resmi 2016. Itu sekitar setahun yang lalu. Cepat, ya? Sekarang dah selengkap ini pula. 

Lampu menaranya warna-warni menyala setiap malam. Halaman dengan lorong-lorong berkubah, semuanya berkeramik bagus dan mulus. 

Kabarnya, masjid ini juga akan dijadikan tempat wisata syariah. Dari kicknews.today, disebutkan luas total area masjid sekitar 74.749 meter persegi. Bangunan utama 36.538 meter persegi, gedung pendidikan 14.092 meter persegi, gedung pengkajian 8.928 meter persegi, area komersial 15.819 meter persegi yang nanti katanya akan dibuatkan hotel syariah.

Bangunan masjid ada 4 lantai, dilengkapi ballroom, dapat menampung 200 mobil, 2000 motor, 15.000 manusia. Ada 6 menara, lambang rukun iman. Ada menara setinggi 99 meter, simbol asmaul husna. 

Sebegini rasanya sudah jauh melebihi ekspektasi akan sebuah rumah ibadah.

Jadi teringat RSUDP NTB, rumah sakit yang juga baru diresmikan tidak lama. Dibangun mulai 2007, diresmikan 2015. Sama-sama besar, jadi-nya lebih lama, tapi terasa belum selesai. 

Masih ada bagian-bagian gedung yang dibangun, dengan suara gaung mesin cor disela-sela tidur siang pasien. Belum genap setahun, sudah  banyak keramik semen yang terkoyak (apa ya bahasanya? Pecah, terangkat ke permukaan gitu lho), sapulante-nya sudah banyak yang jebol, bocor disana-sini, kamar mandi yang airnya sudah mati, dan sebagainya. 

Belum lagi drama yang membumbui sepanjang pembangunannya.

Ah ya, lift buat mengangkut bed pasien sering macet. Kalaupun hidup, bunyi deritnya ramai betul, membikin ngeri tapi harus berani. Ketika lift macet, satu-satunya jalan adalah tangga biasa atau jalan miring yang panjangnya menyaingi jarak antara kita *eh.

Apakah memang prioritas kedua bangunan ini berbeda? Apakah karena masjid adalah tempat suci, sementara rumah sakit adalah tempat kotor penuh darah dan nanah? Entahlah. Tahu apalah saya yang awam ini.

Setelah tarawih, ramailah orang-orang berfoto-foto. Saya dan Lia langsung pulang, tidak sekalipun melakukan selfie. Karena kami tak ingin menodai niat suci kami. Tsaah. Alibi! Padahal kami memang tidak bawa hape pas kesini. Hehehe.

Tapi di Google banyak kok foto masjidnya. Ini ada saya comot beberapa.

Mudah-mudahan besok bisa keliling safari tarawih ke masjid-masjid lainnya. :):):)

Mencicip Gerah

Tulisan lama: sebuah cerita mini beserta kenangan dibaliknya. Semangat yang dulu itu, sebelum kemudian terseok sendu, kepala semakin dungu, tertindih bekuan rindu. Tsaah 💔

Selamat hari Jum’at, selamat menyambut Ramadhan πŸ™‚

Berkali-kali kutelepon, Kak Juni belum juga datang. Baterai handphoneku habis. Handphone yang satunya tertinggal di rumah. Power bank lupa kubawa. Maka kuputuskan pulang sendirian,  berjalan kaki. Sesuatu yang biasanya sangat pantang kulakukan, mengingat kulitku yang terawat, takut gosong terpapar matahari. 

Bisa kurasakan pipiku memerah, menahan marah sekaligus terpanggang pantulan panas dari trotoar. Aah, Kak Juni menyebalkan. Tapi ayah lebih menyebalkan. Ayah janji membelikanku mobil atau sepeda motor baru, berwarna biru, jika lulus di perguruan tinggi. Tapi sudah sebulan kuliah, masih saja aku harus diantar jemput Kak Juni. 

Aku sudah sepertiga perjalanan. Sambil menunduk menghindari sinar matahari, rasanya aku tak tahan untuk tak terus menggerutu. Tiba-tiba sebuah gelas air mineral kosong menghalangi jalanku. Pipiku menggembung. Kusiapkan ancang-ancang, dan.. Cyat! Dengan satu tendangan tangkas, melayanglah gelas plastik itu ke tong sampah terdekat, menubruk dinding luarnya. Ada rasa puas mendengar kegaduhan yang ditimbulkan. 

Tapi tunggu, siapa itu? Tangan keriputnya memungut gelas plastik itu dengan wajah cerah, mengusapnya perlahan, seperti berusaha meredakan tangis seorang bayi, lalu memasukkannya ke sebuah kantong yang diselempangkan di bahu. Mirip seorang ibu yang menggendong buah hatinya. Ada banyak gelas plastik lain disana. Gelas-gelas yang terbuang. Oh, Aku terpesona.

Ibu yang anggun berkerudung cokelat daki itu sudah tak ada ketika aku tersadar. Kulanjutkan perjalanan pulang. Kaki ini mulai pegal, padahal baru setengah perjalanan. Sampai di sebuah taman, ada kelegaan yang menyergap melihat bangku panjang  di bawah pohon di pinggir jalan. Kulepas penat sejenak, memilih duduk salah satu sisi sebuah bangku, memejamkan mata, dan menarik napas perlahan. Aaah, masih saja gerah. Mungkin salah posisi. Kubuka mata hendak pindah ke sisi bangku yang lain. 

Baru saja hendak bangun, aku tertegun. Seseorang dengan kopiah luntur sedang duduk didalam sebuah kotak kayu kecil beroda, dengan kedua tangan bersandal jepit, kekar mendayung di lepuhan aspal.

Ada banyak orang di taman itu. Muda mudi di bangku lainnya tampak bercanda riang, sedang berkencan. Nun di bawah pohon, sebuah keluarga kecil sedang bercengkrama. Sebentar kemudian lewat seorang pemuda dengan sepeda kerennya. Mereka tak melihat orang di kereta kotak kayu itu. Tapi wajah itu, wajah dengan jenggot tipis berwarna putih itu, sama sekali tak terlihat lelah, walaupun kemeja biru tuanya tampak basah. Dan aku terpesona, lagi.

Entah ini sudah belokan ke berapa, aku terus saja berjalan. Aku tidak ingin kehilangan jejak untuk kedua kalinya. Kereta kotak kayu itu berhenti di depan sebuah gubuk kecil beratap seng di tengah perumahan dengan rumah-rumah kecil tak berjarak. Di belakang perumahan minimalis ini, ada tembok tinggi yang membatasi. Ada atap berwarna warni menyembul dibaliknya.

Tunggu, yang di belakang itu, ya, atap biru itu, bukankah itu rumahku? 

Tiba-tiba aku letih sekali. Tanpa kuminta, kakiku sudah beranjak ke bale-bale bambu kecil didepan rumah papan didepanku. Kakek di kereta kotak kayu memanggil seseorang dengan lembut. Di balik pintu, kutemukan lagi wajah teduh itu, yang menggendong gelas plastik itu.

Aku tak mampu lagi bertahan untuk tidak menyalami keduanya. Sejurus kemudian, sekumpulan anak kecil berlarian di antara mereka. Anak-anak tak bersandal ini sungguh menggemaskan. Laparku menguap melihat tawa mereka saat kuajak berkumpul di bale-bale. 

Tanpa berpikir dua kali, aku berlari kecil ke luar perkampungan, menuju balik tembok. Tak kupedulikan ayah yang sedang menyeruput kopi panasnya ditemani selembar koran. Aku tak habis pikir, posisi begitu tidak gerah kah di siang bolong begini? Entahlah. 

Kuraih handphone biru muda di atas meja. Menekan 12 digit nomor yang biasa kuhubungi saat lapar jika tak ada makanan. 

Aku kembali ke balik tembok di belakang rumah. Tampak kakek kereta kotak kayu, nenek berwajah teduh, dan anak-anak berambut jagung sedang asyik menikmati makan siang.  

Seketika gerahku menguap. 

Di bale-bale bambu aku merayu angin. 

Angin oh angin, engkau sejuk pada siapa saja kau berhembus. Siapa saja.

Mataram, 12 Agustus 2013

#obrolin #fiksi-ceritamini

Adek Ima dan Sepatu Super

Sore yang seru: pulang ke rumah dan bermain dengan Adek Ima. Ditemani sepiring pisang goreng dan segelas susu cokelat sachet buatan bersama, kami duduk di depan TV. Sesekali TV 14 inci itu menggelap layarnya. Dengan sigap, Adek Ima akan menendangnya, lalu si TV hidup kembali. Diiringi ledakan tawa kami berdua. 

Detik berikutnya kami sibuk membicarakan tentang serial anak-anak yang sedang tayang. Judulnya “Sepatu Super”. Berkisah tentang dua bersaudara yang -secara tidak masuk akal- dibuntuti sepasang sepatu super dan akhirnya membuat mereka menjadi Sarungman, pahlawan super yang selalu muncul membantu orang yang kesusahan. 

“Coba kita yang dapet sepatu itu ya, Kak.”

“Eh? Memangnya Adek Ima mau ngapain pakai sepatu itu?” Saya memasang wajah penasaran.

“Mau bantu orang-orang susah. Nanti buat lawan anak laki yang nakal. Terus buat kejar pencuri.”

“Terus?” 

“Buat bantu Mamak angkut barang dagangan. Buat pergi ngaji biar ndak telat, ndak capek, dan ndak takut dikejar hantu. Hehehe.”

“Terus?”

“Mm.. Apa ya? Pokoknya buat kemana-mana. Jadi tinggal pake. Terus lari. Wusss.”

“Terus?”

“Iiiih, Kak Tia ‘terus teruus’ terus!” Adek Ima mulai kesal. 

Saya tertawa. Menertawakan diri sendiri. Adek Ima begitu sederhana dan lurus berpikirnya. Berharap bisa membuat hal-hal sekelilingnya menjadi lebih mudah. Saya sendiri berpikir terlalu jauh: menggunakan sepatu itu mencuri uang di rumah orang-orang kaya yang duitnya sampai tidak tau mau diapakan. Atau di pabrik duit sekalian. Terus dibagikan ke orang-orang yang kelaparan atau sedang sakit tapi ndak ada duit, se-Endonesa. Biar keren macam film-film. Atau duitnya buat belanja di Gramedia, borong buku novel dan buku kuliah. Dibagikan se-Lombok, buat anak-anak yang tidak pernah lihat buku bagus. Dibagikan buat mahasiswa sedih yang sangu bulanannya tidak cukup buat beli buku. Juga borong gamis dan jilbab. Buat dedare dan inak-inak yang ingin syar’i tapi tidak sanggup beli. Tapi ide ini terlalu akting. Janganlah dibahas. Biar Adek Ima dengan ide luhurnya. 

Lagi-lagi kami terbahak melihat adegan anak nakal yang dijahili si sepatu super. Tiba-tiba Adek Ima berhenti tertawa dan memasang wajah serius. 

“Kak, kalo buat perbaiki rumah, bisa ndak?”Adek Ima menatap dengan mata polosnya. 

“Bisa dong. Bisa bet. Buat angkut batu-bata atau naik ke atap. Eh, abis ini acara apa ya? Mia Si Manusia Ikan bukan?” Saya coba mengalihkan pembicaraan. 

“Bukan. Lupa. Mungkin berita. Tapi nanti malam ada pelm orang besar. Judulnya Anak Jalanan.” Orang besar menurut Adek Ima adalah orang dewasa.

“Wah, tentang apa itu?” Dalam pikiran saya, ini mestilah macam sinetron Si Entong yang dulu itu.

“Bukan. Tentang cinta-cintaan.”

“Ha??” Saya melongo. “Darimana tahu, Adek Ima?”

“Iya, soalnya sering bilang cinta. Aku cinta sama kamu. Gitu.” Dia menirukan cara berbicara dalam sinetron. Aduh. Jadi tidak sabar menunggu acara TV selanjutnya. Membicarakan acara berita tanah longsor semoga lebih menarik baginya.

“O iya… Kak?” Adek Ima seperti teringat sesuatu.

“Apa?” Perasaan ini mulai tidak enak. 

“Apa itu cinta?”

Bibir ini kehilangan kata-kata. Someone, help me pleasee  T.T

Blog at WordPress.com.

Up ↑