Membaca Hati?

Aku membayangkan hati sebagai sebuah kumpulan lempengan tipis dengan tekstur kenyal berwarna merah marun, dijilid dengan temali berwarna hijau kebiruan serupa selang kecil yang didalamnya ada cairan berwarna merah terang. Lalu di sekitarnya tertempel pernik kekuningan berumbai-rumbai yang memantikkan listrik kecil -menyetrum sedikit saja- ketika disentuh. Sesekali cairan dalam tali selang kecil akan memercik halus, seperti semprotan parfum, merembes, semenyisakan bau amis yang khas. 

Tapi kira-kira apa yang tertulis diantara lempengan itu? Aku belum bisa membayangkannya dengan sempurna. Konon ketika cairan yang memercik dan merembes diantaranya berwarna merah terang dan berbau segar, berarti didalamnya tertulis hal-hal yang dianggap baik: harapan, kasih sayang, bahagia, dan semangat. Pun sebaliknya, ada saat dimana ia mengeluarkan bau tak sedap yang tercium bahkan dari jauh, berwarna merah kehitaman. Saat itu, diceritakan bahwa didalamnya tertulis segala yang dianggap buruk dan tidak disukai orang-orang. Semisal benci, iri, dendam, kesedihan, keputus-asaan. 

Ah ya, di rumbai pelindungnya yang menyetrum, tergantung sesuatu. Ia mungil dan transparan, hampir tak terlihat. Diatasnya tertulis ‘Cinta’. Iya, cinta adalah salah satu pelindungnya. Melindunginya dari kebusukan akibat tulisan-tulisan didalamnya. Menjadi penawar iri, dendam, sedih, dan putus asa. Meniadakan prasangka buruk, penawar kecewa. Menyerap tinta-tinta harapan, kasih sayang, bahagia, dan semangat.  Maka seringkali ia disebut cinta yang buta.

Benda bernama hati ini tentu ada dalam dada setiap orang. Sayangnya yang tertulis didalamnya belum tentu tercermin pada tampilan luar orangnya. Membuat penasaran. 

Ah ya, kira-kira, dalam lempengan hatimu -iya, kamu- adakah tertulis namaku? 

Kamu, yang bisa kutemui kapanpun aku suka, menatapi matamu tanpa terhalang duka, kemudian pulang dengan tanda tanya. Tadi aku melihat diriku tercermin di matamu. Apakah sekarang pejammu masih menyimpannya?

Tapi, setelah kupikir-pikir lagi, mungkin aku lebih memilih ‘tidak tahu’ saja. Bukankah sudah tercipta sesuatu bernama firasat? Aku merasa cukup dengan firasatku.

Aku seringkali mengandalkan firasatku terhadapmu, sejak pertama kali mengenalmu. Dulu, melalui puisi dan senyum manismu, firasatku mengatakan, Dia akan mendekatkanku padamu. Tanpa kusadari terselip doa disana. Entah, apakah firasat selalu menyertai doa-doa? 

Lalu saat kau akan pergi, firasatku juga mengatakan akan kehilanganmu dalam waktu yang lama. Tak kupungkiri, aku mencoba menyangkalnya, menghindari kenyataan ‘pergi’ yang kau putuskan. Memukul-mukul kepalaku sendiri, mengutuki bibirku yang kelu untuk menahanmu demi firasat burukku. Tapi bukankah firasat buruk tidak harus diungkapkan? Ia takkan berpengaruh apa-apa, karena segalanya sudah diatur sedemikian rupa. Terjadi maka terjadilah. Ah, tapi aku pernah diberitahu, doa bisa memperbaikinya. Maka aku berdoa, agar menemukanmu kembali, suatu hari.

Firasatku mengatakan, kau akan menjadi bagian terbaik perjalananku, meski mungkin kau akan kembali tiada. Biarlah isi hatimu menjadi rahasia. Biar kau yang memberitahu, esok hari, di suatu senja.
———–

#AnggapSajaFiksi

#KataKawan #RuangBlogger

———–

Sumber gambar: pinterest.com

Advertisements

20 thoughts on “Membaca Hati?

Add yours

    1. Dibutakan dan membutakan? Hmmmph, iya ya Kak Didi.. dan keduanya itu sulit dibedakan :’)

      Makasi juga sudah mampir, Kak 😊

      1. iya… tapi kalau dijelaskan dengan bahasa latin itu bayangan kita bisa langsung tahu dimana tempatnya. Btw, ada latar belakang medis kah?

      2. Ah, iya ya.. baiklah, semangat belajar menulis lagi πŸ’ͺ😊
        Kebetulan ada, Kang 😊

    1. Hmm.. Mas Nur ndak lagi nyindir kan? :’)

      Entahlah.. Sakit patah hati itu katanya berasa di dada, sementara organ hati letaknya di perut..

      Bagaimana kalau orang yang patah hati kita suruh bunuh diri terus diotopsi? πŸ˜‚πŸ˜‚

  1. setelah membaca tulisan tentang membaca hati, sudilah kiranya membagi tips supaya bisa memiliki hatimu. πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: