Adek Ima dan Sepatu Super

Sore yang seru: pulang ke rumah dan bermain dengan Adek Ima. Ditemani sepiring pisang goreng dan segelas susu cokelat sachet buatan bersama, kami duduk di depan TV. Sesekali TV 14 inci itu menggelap layarnya. Dengan sigap, Adek Ima akan menendangnya, lalu si TV hidup kembali. Diiringi ledakan tawa kami berdua. 

Detik berikutnya kami sibuk membicarakan tentang serial anak-anak yang sedang tayang. Judulnya “Sepatu Super”. Berkisah tentang dua bersaudara yang -secara tidak masuk akal- dibuntuti sepasang sepatu super dan akhirnya membuat mereka menjadi Sarungman, pahlawan super yang selalu muncul membantu orang yang kesusahan. 

“Coba kita yang dapet sepatu itu ya, Kak.”

“Eh? Memangnya Adek Ima mau ngapain pakai sepatu itu?” Saya memasang wajah penasaran.

“Mau bantu orang-orang susah. Nanti buat lawan anak laki yang nakal. Terus buat kejar pencuri.”

“Terus?” 

“Buat bantu Mamak angkut barang dagangan. Buat pergi ngaji biar ndak telat, ndak capek, dan ndak takut dikejar hantu. Hehehe.”

“Terus?”

“Mm.. Apa ya? Pokoknya buat kemana-mana. Jadi tinggal pake. Terus lari. Wusss.”

“Terus?”

“Iiiih, Kak Tia ‘terus teruus’ terus!” Adek Ima mulai kesal. 

Saya tertawa. Menertawakan diri sendiri. Adek Ima begitu sederhana dan lurus berpikirnya. Berharap bisa membuat hal-hal sekelilingnya menjadi lebih mudah. Saya sendiri berpikir terlalu jauh: menggunakan sepatu itu mencuri uang di rumah orang-orang kaya yang duitnya sampai tidak tau mau diapakan. Atau di pabrik duit sekalian. Terus dibagikan ke orang-orang yang kelaparan atau sedang sakit tapi ndak ada duit, se-Endonesa. Biar keren macam film-film. Atau duitnya buat belanja di Gramedia, borong buku novel dan buku kuliah. Dibagikan se-Lombok, buat anak-anak yang tidak pernah lihat buku bagus. Dibagikan buat mahasiswa sedih yang sangu bulanannya tidak cukup buat beli buku. Juga borong gamis dan jilbab. Buat dedare dan inak-inak yang ingin syar’i tapi tidak sanggup beli. Tapi ide ini terlalu akting. Janganlah dibahas. Biar Adek Ima dengan ide luhurnya. 

Lagi-lagi kami terbahak melihat adegan anak nakal yang dijahili si sepatu super. Tiba-tiba Adek Ima berhenti tertawa dan memasang wajah serius. 

“Kak, kalo buat perbaiki rumah, bisa ndak?”Adek Ima menatap dengan mata polosnya. 

“Bisa dong. Bisa bet. Buat angkut batu-bata atau naik ke atap. Eh, abis ini acara apa ya? Mia Si Manusia Ikan bukan?” Saya coba mengalihkan pembicaraan. 

“Bukan. Lupa. Mungkin berita. Tapi nanti malam ada pelm orang besar. Judulnya Anak Jalanan.” Orang besar menurut Adek Ima adalah orang dewasa.

“Wah, tentang apa itu?” Dalam pikiran saya, ini mestilah macam sinetron Si Entong yang dulu itu.

“Bukan. Tentang cinta-cintaan.”

“Ha??” Saya melongo. “Darimana tahu, Adek Ima?”

“Iya, soalnya sering bilang cinta. Aku cinta sama kamu. Gitu.” Dia menirukan cara berbicara dalam sinetron. Aduh. Jadi tidak sabar menunggu acara TV selanjutnya. Membicarakan acara berita tanah longsor semoga lebih menarik baginya.

“O iya… Kak?” Adek Ima seperti teringat sesuatu.

“Apa?” Perasaan ini mulai tidak enak. 

“Apa itu cinta?”

Bibir ini kehilangan kata-kata. Someone, help me pleasee  T.T

Advertisements

18 thoughts on “Adek Ima dan Sepatu Super

Add yours

  1. Mau bantu jawab, tapi ga yakin juga jawabannya sesuai.
    Kalau saja dia belum sering dengar “aku cinta kamu” dr tivi2 itu….
    Hmm…

    Ah, tontonan yang aman untuk anak semakin sedikit ya Mbk..😩

    1. Apaa apaa jawabannya Mba Ikhaa? *penasaran 😢

      Iyaaa Mba Ikhaa, mesti diawasi bener-bener kalo nonton tv πŸ˜₯

      1. Ah, kayaknya kudu belajar parenting remaja juga ya mbk. Susah kalau punya adek menginjak remaja tp masih bingung menuturi pakai kalimat yg tepat.
        *curhat malahan
        πŸ˜ƒ

      2. Setujuu, Mba Ikhaa.
        Aeee Mba Ikha curhat tentang adiknya yaa πŸ˜† Semangaat belajar, calon Mamak πŸ˜™

  2. I feel u kak Tia, aku juga pernah ditanya sama adik-adikku dengan pertanyaan yang sama. Dan aku cuma bisa senyum sambil bilang, suatu saat kamu akan mengerti sendiri artinya apa 😒😒😒

    1. Ah, Zizaa, tak pikir Ziza bakal kasi jawaban lutjuu, ternyata jawabannya baperan juga ya ahaha 😁

  3. Haha…anak kcil ada ada saja..

    Klo aku ditanya gitu, aku jg bngung jwabnya, pling aku jawab, soalnya dijlskan jg dia gak ngrti, jd nunggu gede aja dech bkal tahu sndiri, hee…maaf komenku gak bntu…πŸ˜‚πŸ˜‚

    1. Iya Bang, emang bikin bingung πŸ˜‚πŸ˜‚
      Baiklah, tunggu dia gede dulu. Yaa mudah-mudahan dia tidak ‘gede’ sebelum waktunya πŸ˜₯

  4. Eh Tia, pemikiran terlalu jauhmu jahat juga wkwk. Robin Hood masa kini dengan sepatu supernya πŸ˜‚ Untuk pertanyaan terakhir itu yang jawab Anak Jalanan aja deh -_- Heran sama konten acara keluarga kok begitu

    1. Wkwkw Robina Hoodiati, makasi makasi Bang πŸ˜‚
      Konten acara keluarga? Ndak relaa, KZL πŸ˜‚

    1. Aseek.. Coba jawab gitu ah, mudah-mudahan mereka ndak keliling pasar cari ‘permen cinta’ ya Bang πŸ˜‚

  5. Ternyata televisi telah menjadi korban dua arah:

    Pertama, kalau gambar di layar hilang dia ditendang (hehehe).

    Kedua televisi telah ‘dirasuki’ tayangan-tayangan yang tidak layak tonton. Jika televisi dianalogikan sebagai gelas barangkali tayangan-tayangan tersebut bukanlah air ataupun makanan, melainkan adukan: pasir, batu split, semen dan air–tentu saja untuk ‘mengkonstruksikan’ para penontonnya menjadi seperti yang ‘mereka’ inginkan.

    Penceritaannya natural. πŸ‘

    1. Waah iya ya, ternyata televisi tidak sepenuhnya salah, dia juga korban. Ndak kepikiran sampai sana hehe πŸ˜‚

      Analoginya asik. Setujuu, adukan yang kalau sudah mengeras susah dibentuk ulang :’)

      Makasiii, Bang 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: