Mencicip Gerah

Tulisan lama: sebuah cerita mini beserta kenangan dibaliknya. Semangat yang dulu itu, sebelum kemudian terseok sendu, kepala semakin dungu, tertindih bekuan rindu. Tsaah 💔

Selamat hari Jum’at, selamat menyambut Ramadhan 🙂

Berkali-kali kutelepon, Kak Juni belum juga datang. Baterai handphoneku habis. Handphone yang satunya tertinggal di rumah. Power bank lupa kubawa. Maka kuputuskan pulang sendirian,  berjalan kaki. Sesuatu yang biasanya sangat pantang kulakukan, mengingat kulitku yang terawat, takut gosong terpapar matahari. 

Bisa kurasakan pipiku memerah, menahan marah sekaligus terpanggang pantulan panas dari trotoar. Aah, Kak Juni menyebalkan. Tapi ayah lebih menyebalkan. Ayah janji membelikanku mobil atau sepeda motor baru, berwarna biru, jika lulus di perguruan tinggi. Tapi sudah sebulan kuliah, masih saja aku harus diantar jemput Kak Juni. 

Aku sudah sepertiga perjalanan. Sambil menunduk menghindari sinar matahari, rasanya aku tak tahan untuk tak terus menggerutu. Tiba-tiba sebuah gelas air mineral kosong menghalangi jalanku. Pipiku menggembung. Kusiapkan ancang-ancang, dan.. Cyat! Dengan satu tendangan tangkas, melayanglah gelas plastik itu ke tong sampah terdekat, menubruk dinding luarnya. Ada rasa puas mendengar kegaduhan yang ditimbulkan. 

Tapi tunggu, siapa itu? Tangan keriputnya memungut gelas plastik itu dengan wajah cerah, mengusapnya perlahan, seperti berusaha meredakan tangis seorang bayi, lalu memasukkannya ke sebuah kantong yang diselempangkan di bahu. Mirip seorang ibu yang menggendong buah hatinya. Ada banyak gelas plastik lain disana. Gelas-gelas yang terbuang. Oh, Aku terpesona.

Ibu yang anggun berkerudung cokelat daki itu sudah tak ada ketika aku tersadar. Kulanjutkan perjalanan pulang. Kaki ini mulai pegal, padahal baru setengah perjalanan. Sampai di sebuah taman, ada kelegaan yang menyergap melihat bangku panjang  di bawah pohon di pinggir jalan. Kulepas penat sejenak, memilih duduk salah satu sisi sebuah bangku, memejamkan mata, dan menarik napas perlahan. Aaah, masih saja gerah. Mungkin salah posisi. Kubuka mata hendak pindah ke sisi bangku yang lain. 

Baru saja hendak bangun, aku tertegun. Seseorang dengan kopiah luntur sedang duduk didalam sebuah kotak kayu kecil beroda, dengan kedua tangan bersandal jepit, kekar mendayung di lepuhan aspal.

Ada banyak orang di taman itu. Muda mudi di bangku lainnya tampak bercanda riang, sedang berkencan. Nun di bawah pohon, sebuah keluarga kecil sedang bercengkrama. Sebentar kemudian lewat seorang pemuda dengan sepeda kerennya. Mereka tak melihat orang di kereta kotak kayu itu. Tapi wajah itu, wajah dengan jenggot tipis berwarna putih itu, sama sekali tak terlihat lelah, walaupun kemeja biru tuanya tampak basah. Dan aku terpesona, lagi.

Entah ini sudah belokan ke berapa, aku terus saja berjalan. Aku tidak ingin kehilangan jejak untuk kedua kalinya. Kereta kotak kayu itu berhenti di depan sebuah gubuk kecil beratap seng di tengah perumahan dengan rumah-rumah kecil tak berjarak. Di belakang perumahan minimalis ini, ada tembok tinggi yang membatasi. Ada atap berwarna warni menyembul dibaliknya.

Tunggu, yang di belakang itu, ya, atap biru itu, bukankah itu rumahku? 

Tiba-tiba aku letih sekali. Tanpa kuminta, kakiku sudah beranjak ke bale-bale bambu kecil didepan rumah papan didepanku. Kakek di kereta kotak kayu memanggil seseorang dengan lembut. Di balik pintu, kutemukan lagi wajah teduh itu, yang menggendong gelas plastik itu.

Aku tak mampu lagi bertahan untuk tidak menyalami keduanya. Sejurus kemudian, sekumpulan anak kecil berlarian di antara mereka. Anak-anak tak bersandal ini sungguh menggemaskan. Laparku menguap melihat tawa mereka saat kuajak berkumpul di bale-bale. 

Tanpa berpikir dua kali, aku berlari kecil ke luar perkampungan, menuju balik tembok. Tak kupedulikan ayah yang sedang menyeruput kopi panasnya ditemani selembar koran. Aku tak habis pikir, posisi begitu tidak gerah kah di siang bolong begini? Entahlah. 

Kuraih handphone biru muda di atas meja. Menekan 12 digit nomor yang biasa kuhubungi saat lapar jika tak ada makanan. 

Aku kembali ke balik tembok di belakang rumah. Tampak kakek kereta kotak kayu, nenek berwajah teduh, dan anak-anak berambut jagung sedang asyik menikmati makan siang.  

Seketika gerahku menguap. 

Di bale-bale bambu aku merayu angin. 

Angin oh angin, engkau sejuk pada siapa saja kau berhembus. Siapa saja.

Mataram, 12 Agustus 2013

#obrolin #fiksi-ceritamini

Advertisements

6 thoughts on “Mencicip Gerah

Add yours

    1. Beneeeerr, sering nyetok itu di tas 😂

      Coba ada yg motif jimat-nya gitu Kak Kunu yaaa 😂😂

    1. Iyaa 2013 *berasa tua 😅😅

      Itu nomor.. siapa ya.. seseorang di masa lalu.. terlupa.. itu..
      ah, sudahlah 😔

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: