3-6 Ramadhan: Hari-hari yang terlewatkan

Welcome, Juni πŸ™‚

Waaa, sudah hampir seminggu Ramadhan. Ada beberapa kegiatan yang rasanya ingin ditulis disini, dibuat draft-nya, sambil blogwalking, dan.. Taraa! Minder sendiri hahaha. Tulisan teman-teman yang lain bagus-baguus maasya Allah. Tapi coba menguatkan diri, lagi, tulis lagi.

Bagaimana kalau jelek? Isinya kurang bermanfaat? “Ndak papa, kan belajar,” kata Kirana, saban hari.

👣👣👣

NgabubuRead bareng KCB

​Hari ahad sore, saya dan Lia ikut ngabubuRead bareng KCB (Kelompok Cinta Baca) Mataram. Membahas bukunya alm. Nurcholis Majid yang berjudul Dialog Ramadhan Bersama Cak Nur. 

Ada Bang Ical sebagai pemandu sekaligus nara sumber, Kak Yana sebagai moderator, dan beberapa orang peserta. Hadir juga Kak Iin, Kak Bunga, Bang Darman, Bang Jo, Wahyu, dan banyak yang lainnya. 

Diskusinya santai, tapi pembahasannya beraat. Saya yang ‘bacaan berat’nya masih nol, awalnya khawatir tidak bisa mengikuti. Tapi, demi melihat wajah-wajah teduh teman-teman ini, terbuang jauh-jauh prasangka buruk itu.

Kali ini dibahas bab awal, tentang hikmah puasa. Pertama-tama kami membaca bersama, dibacakan bergilir beberapa poin sesuai arahan Bang Ical, kemudian disimpulkan sambil Bang Ical menambahkan berbagai bahan renungan yang asyik terkait dengan puasa. Tak lupa Abang ketje ini menuliskan poin-poin penting di papan tulis.

Selanjutnya peserta diskusi juga menyampaikan pendapat. Mulai dari Bang Dirman, Kak Iin, Bang Jo, dan saya yang sedikit geje. Ndak papa, ndak papa. Geje adalah ketje yang tertunda. Hehehe.

Orang-orang macam mereka ini, yang isi kepala dan pikirannya penuh namun tetap bebas, bisa dengan begitu terbuka dan runut menyampaikan isi kepala, adalah yang selalu membuat saya kagum dan menciut macam ikan teri.

Banyak hal yang saya dapatkan dari diskusi kali ini. Kosa kata baru, hikmah-hikmah, dan pemahaman-pemahaman baru.

Senang bisa menghabiskan waktu bersama KCB seperti ini. Menemui kawan-kawan disini seperti candu yang menyejukkan hati. Hei kalian, jangan bosan menemani, ya :’)

👣👣👣

Hilang

Malam selasa, malam yang sendu, menyadarkan saya pada sesuatu.

Jadi sepulang tarawih di masjid, saya melenggang menuju pintu kamar kost dengan santai. Sampai kemudian menyadari sesuatu. Sesuatu untuk membuka pintu itu, yang biasanya saya genggam itu, yang saya beri gantungan kayu berukir nama saya itu, tidak ada. Lutut ini lemas seketika. 

Sudah jam setengah 11 malam, saya tergupuh kembali ke masjid, mencari kunci kamar. Bertanya kepada yang bisa ditanyai. Tapi sia-sia. Akhirnya saya menyerah. Tidak apa-apa, nanti kalau rezeki pasti ketemu, kan?

Jadilah saya menginap di kamar sebelah. Terbayang hape didalam sana. Teringat diskusi senin malam di Grup Obrolin yang terbayang keseruannya. Sejenak terbetik rasa hampa. Saya memang tidak banyak menyapa, tapi selalu menyimak keseruan teman-teman disana. Membayangkan ekspresi wajah mereka saat grup dilanda huru hara. 

Kadang terpikir mengetik begini:

AskApakah di dunia nyata teman-teman seramai ini? Aaaa, semoga bisa mensejajari kalian yaa :’)

Tapi urung, lantaran maluterlalumalu.

Ah ya, kembali ke kunci kamar. Syukurlah keesokan harinya ada bapak tukang kunci yang gagal membikinkan kunci tapi berhasil mencongkelkan jendela untuk saya loncati, masuk kedalam sana. Ah, terimakasih ya, Pak. 

Saya jadi menyadari kembali sesuatu. Sesungguhnya, apapun yang saya punya dan kenal sekarang ini, entah benda, entah seseorang, entah badan dan isi kepala, semuanya hanyalah titipan yang sementara. Kalau Dia mau Mengambil, dalam sepersekian detik sudah tidak ada.

Maka sejak beberapa waktu lalu terpikir untuk mencoba tidak ketergantungan dengan apa-apa dan siapa-siapa selain Dia.

Belajar sendiri kemana-mana, kalau masih bisa tidak merepotkan orang lain, maka jangan membuat orang lain terganggu waktunya. Sebaliknya, membantu orang jangan pilih-pilih juga. Yah, saya masih belum bisa menyeimbangkan yang ini. Pelan-pelan, nanti semoga bisa membantu siapa saja.

Saya merasa masih alay. Apa-apa dibawa perasaan. Membuat status galau-galauan. Maka sekarang sedang belajar mengendalikan. Mulai dari membiarkan hape apa adanya. Walpaper diganti sekali saja, media sosial dibuka saat perlu-perlu saja. Foto profil biarkan yang itu-itu saja. 

Agak lebai memang, tapi ini usaha saya belajar tidak ketergantungan. Beginipun masih sering kelolosan, sampai lupa mandi dan makan, asik buka wasap dan gugling-an.

Belajar berpakaian juga perlu. Berusaha tidak memakai pakaian berlebihan. Relatif memang. Yang mewah menurut kelompok A bisa jadi sederhana menurut kelompok B. Maka saya coba sisakan beberapa potong pakaian saja. Yang wearable untuk bekerja, jalan-jalan, dan cukup sopan untuk kondangan. Sisanya dikeluarkan saja. 

Tapi ya itu, yang masih candu tinggal satu: bertemu KCB dan buku-buku.

👣👣👣

Pindahan

Kost yang hilang kuncinya itu akhirnya saya lepaskan. Berpindah ke sebuah kamar didalam gang dekat sungai di Ampenan. 

Tapi sepertinya dalam situasi seperti inilah terasa perihnya sendirian. Mulai dari keliling bertanya dan mencari, sampai akhirnya pindahan. Gangnya sempit, tidak bisa dimasuki mobil. Jadilah diangkut dengan motor. Bayangkanlah, mengangkut barang-barang dengan motor sendirian, sendirian. Ah, saya jadi ngeri mendengar suara sendiri.

Sekali lagi, tidak apa-apa, ini bagian dari pelajaran. Pelajaran kekuatan dan ketangguhan. Pada akhirnya, di suatu masa, kita akan menghadapi semuanya sendirian, kan?

Mataram, 1 Juni 2017

Advertisements

25 thoughts on “3-6 Ramadhan: Hari-hari yang terlewatkan

Add yours

  1. Semangaat mbk Tia..πŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒ

    Dan..di ask saja pertanyaan2nya. Saya akan jawab kok.

    Berhubung sudah ditulis disini tak jawab disini ya.
    “Enggak mbak. Di dunia nyata saya berkali- kali lebih pendiam. Bisa jadi pas di maya emoticonnya πŸ˜‚ di dunia nyata jadi gini 😊, giginya ga bakal keliatan.”
    Apalah ini..πŸ˜†

    1. Hihi ulaam Mba Ikha πŸ˜‚

      Wkwkw iyasih masa mba ikha yg keibuan lagi di bis trus ketawa kayak gitu, kan…aneeh πŸ˜‚πŸ˜‚
      Kapan2 deh tak ask yg lain juga πŸ˜…

      Semangat juga Mba Ikhaaaa 😊😊

      1. Mba Ikhaaaaaa, itu lho Bahasa Indonesia, dibalik doaaaang πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      2. Astagaaaa…..πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

        Tega kau mbk. Aku mikirnya bahasa Sasak. Kenapa jadi kayak Ngalam giniii…wkwkwk

      3. Wkwkw maapin mba ikhaa. Iyaa di kelas malah banyak kata-kata yg dibolakbalik πŸ˜‚

  2. Klo saya kayaknya sudah ketergantungan sama laptop dan hp mbak. Pas rusak saya jadi sedih dan bingung mau ngapain ha ha ha…. tapi memang gak bagus sih ketergantungan gitu. Saya akan mencoba berubah.

    1. Yaaaa memang susah Bang, saya juga masih belum sepenuhnya gak ketergantungan..
      Siapp, sama-sama belajar berubaah :’)

  3. Geje adalah ketje yang tertunda… Apaan sih wkwk
    Pernah juga ngerasain hilang kunci kosan. Perasaan lutut lemes itu bener sekali. Suka baca curhatan ini. Banyak pengingat diri yang mestinya senantiasa terpatri… sukses ya di kamar barunya πŸ™‚

    1. Wkwkw jeli amaat, Bang πŸ˜‚πŸ˜‚

      Iya? Kayaknya ga afdol jadi anak kost kalo belom ngerasain ya haha.
      Aaaak terharu, makasi makasiii πŸ˜†πŸ˜†

    1. Hahaha memaaang dah duo ZizaFadel paling jeliii sama hal-hal absurd kek gitu πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: