Pertengahan Ramadhan: Mendengarkan

Hari ini, seperti kemarin-kemarin, saya mual muntah tanpa sebab, lagi. Saya tahu apa yang terjadi pada diri saya, tapi gagal mengatasinya. Tidak apa-apa, dinikmati saja dulu, pura-pura baik-baik saja, sampai lupa sedang pura-pura. Itu yang selalu kau katakan, kan?
Salah satu hal yang membuat mual ini berkurang adalah bertemu orang tua dan teman-teman. Tapi malangnya, setelah tidak didepan mereka, mualnya menjadi lebih hebat dari sebelumnya. Jadi, apa ya? Semacam simalakama.

Ah ya, mungkin akan ada yang bepikir ini mual orang ngidam. Ya nggak, lah. Jodoh saja belum ada gambaran bentuknya seperti apa. Mungkin belum lahir ya. Hahaha.

🐾🐾🐾

Jadi, pada salah satu kunjungan saya bertemu kawan-kawan, dalam rangka belajar tentang kehidupan *tsaah, yang paling sering saya kunjungi ada satu tempat, sebut saja perpustakaan KCB (Kelompok Cinta Baca) Mataram.

Seperti suatu malam, saya turut mendengarkan cerita orang-orang disana. Hari itu hari istimewa, ada Bang Hafidh yang berkunjung dan membawakan permata: dua kardus buku-buku keren koleksi pribadinya. Bang Hafidh banyak bercerita tentang hal-hal gila: perjalanan ke timur Indonesia dengan sepeda, menemukan banyak jenis manusia, lalu bereksperimen dengan kehidupannya sendiri menuju hidup yang amat sangat sederhana.

Bang Hafidh tidak banyak berbicara tentang teori filsafat tingkat tinggi ataupun dalil-dalil agama. Salah satu yang dilakukannya adalah mengerjakan apa yang dibaca, kemudian menemukan kenyamanan disana. Terima kasih, Bang. Terima kasih atas banyak pelajaran dalam sekian lembar cerita.

Setelah mendengarkan Bang Hafidh dan abang-abang yang lain bercerita, mata saya memberat, dan menemukan Kak Queen di ruangan khusus perempuan. Semula saya hanya bertanya kabar, tahu-tahu dalam satu jam dia sudah bercerita banyak sambil berkaca-kaca. Kak Queen juga punya cerita dan hikmah dibaliknya. Kak Queen, untukmu kuhanya punya doa.

Ternyata kami tidak muat berderet-deret di satu ruangan. Saya berinisiatif keluar mencari sudut yang bisa ditempati dengan lebih leluasa. Akhirnya saya menemukan Kak Bunga, tergeletak dengan hape Nokia jadulnya. Saya langsung menyosor di sampingnya. Sejenak kami berdua tertawa.

Saya iseng bertanya, Kak Bunga sedang SMSan dengan siapa. Ternyata dengan adik mantannya. Waah, bagi saya itu luar biasa. Bagaimana bisa, seseorang yang meninggalkan luka, masih harus diingat melalui keluarganya. Tapi ternyata justru Kak Bunga tidak merasa terganggu. Bahkan menyukainya. Kata Kak Bunga, “saya bahagia bisa melihat matanya dalam mata orang-orang di sekelilingnya.”

Cerita Kak Bunga merembet menuju kisah asmara yang panjang, berliku, dan aneh bin gila. Beberapa kali Kak Bunga ke kamar mandi, tak tahan, lantaran kami terlalu keras tertawa. Sampai akhirnya, jam di hape Kak Bunga menunjukkan pukul setengah empat. Astaga. Kami buru-buru menanak nasi buat sahur sebelum jam lima.

🐾🐾🐾

Setelah sahur dengan sambal goreng tempe buatan Suni, telur dadar, mie Sedaap rasa soto sebagai kuahnya, ditambah pisang dan kurma sebagai penutupnya, kami besendawa lega. Sebelum subuh, kami lagi-lagi bercerita. Cerita-cerita yang membuat keberanian kami ke kamar mandi tak lagi sama. Apalagi kalau bukan cerita dimensi lain dan misterinya.

🐾🐾🐾

Ada banyak skenario di dunia ini, ternyata. Skenario yang tidak pernah bisa ditebak akhirnya.

Seseorang pernah berkata, “Orang dengan masalahnya, kalau yang dipikirkan cuma nasibnya sendiri, dia akan sakit.” Jangan-jangan saya muntah ini juga hanya perasaan saya saja, karena kurang melihat ke luar sana. Baiklah, ini juga nggak nyambung.

Setiap kita punya skenario istimewa sendiri. Orang yang jalan hidupnya keren, dibaliknya bisa jadi ada banyak duri tak keren-nya. Orang yang tampak biasa-biasa saja, kadang membuat ternganga-nganga saat ia bercerita.

Setiap skenario ada, untuk dipikirkan, diambil hikmahnya. Bagaimana kita tahu yang benar sebelum diberitahu benar itu apa? Bagaimana kalau kita diberitahu melalui kesalahan kita? Yah, mungkin saking bebalnya, teori saja tidak cukup, jadi perlu diasah dengan praktik, yang rawan kesalahan, tentu saja.

Ini pesan yang harus saya ulang-ulang untuk saya yang cukup parah sifat pelupanya. Saya bahkan sering lupa nasehat para guru saya, kata-kata bijak mereka: “Antara gelap dan terang, keduanya cahaya Allah jua.”

Tak apa, setelah kesalahan itu, setelah penyesalan itu, bayangkan menaiki perahu, mendayung sekuat-kuatnya ke tengah lautan lepas. Lihatlah, betapa diri ini kecil disana, semuanya menjadi begitu luaaaas, termasuk ampunanNya.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”. (Ali Imran: 8).

Advertisements

6 thoughts on “Pertengahan Ramadhan: Mendengarkan

Add yours

    1. Tapi saya dah muntah sebelum pergi mendengarkan, Bang 😂😂😂
      Btw mual muntahnya itu intermezo, jangan terlalu diperhatikan. Nanti dia baper diberi perhatian *eh 😂😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: