Sepasang Matamu

Hari ini mataku menghangat, menemukan sepasang matamu yang sayu. Mata dengan senyuman yang sendu. 

Kau bilang pose itu bersusah payah kau ambil, demi foto yang tak terfokus di wajahmu. Seperti susah payahmu menghadapi hidup agar sekelilingmu tak terfokus pada nestapa di matamu. 

Aku pernah lalai menangkap sinar matamu. Lalu egois memaksanya menjadi secerah yang aku mau. Menggosoknya dengan terlalu, agar lebih berkilau, pikirku. Tak peduli ia menjadi berair, merah, dan tak lagi seterang dulu. 

Belum lagi pernik kekanakan yang kubawa, kutempel-tempel di lengkung kelopakmu, lalu di bulu mata dan alismu. Ah, kupikir kamu suka. Ternyata aku hanya memikirkan diriku, agar matamu tampak indah di mataku. 

Lalu dengan tangan tak berseni-ku, kulukis segaris rindu di kelopakmu. Berharap meninggalkan lukisan indah di matamu yang lelah. Tapi lagi-lagi aku salah. Garis ini mengotori jejak rapi yang telah sejak lama kau susuri, dengan tatapmu yang tajam dan sepi.

Sudah terlalu lama kau menderita. Seluruh tubuhmu penuh bekas luka. Tersisa matamu yang ceria, dan aku mengacaukannya. Menyeruak nyeri di dada melihatmu terluka, menahan sakitnya. Lalu kau membayang di pelupuk mata.

Matamu sudah indah, serupa puisi yang sering kau gubah. Memolesnya hanya akan membuat susah, mungkin tak akan ada yang berubah. 

Sungguh, maafkan aku yang selalu salah.

Aku mohon, berbahagialah. 

Advertisements

14 thoughts on “Sepasang Matamu

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: