Mengeja Bahagia

Mengeja bahagia? 

Semacam: be a ba, ha a ha, ge i gi, a, gia, b-a-h-a-g-i-a, bahagia. Begitu kah?

Ini bukanlah tulisan seorang pakar bahasa. Hanya manusia biasa yang mencoba melihat lembaran yang sudah-sudah. Rasanya bahagia itu semacam perasaan penuh di dada, yang sulit diungkapkan dengan kata, terwakilkan dengan senyuman yang walau ditahan tetap tidak bisa.

Perasaan yang bisa muncul tiba-tiba karena diberi dan memberi, dari semua, kepada semua.

Ia selalu muncul ketika menyadari pemberian dan kemudahan dariNya yang datang dari segala arah dan warna: arah yang tak diduga, warna hitam, putih, merah muda, semuanya.

Hari ini ia hadir melalui sepiring nasi, tumis kangkung, ikan asin, dan sambal terasi buatan sendiri. Lengkap dengan seorang kawan yang turut lahap menikmati.

Dulu, waktu melihat ayah pertama kali membelikan sepeda, perasaan itu pernah menghiasi hari-hari yang kurang lega. Perasaan yang sama saat menerima hadiah lomba menggambar yang sudah lupa kapan tepatnya, saat memegang buku pertama yang dibeli sendiri, juga saat memegang mok yan jong dan busur panah untuk pertama kali. 

Lalu ia datang kembali, saat melihat senyum Mamak karena diambil alih berkardus-kardus dagangan yang membebani punggungnya yang menua, atau melihat tangis haru Pak Entahsiapa yang mendapat tambahan biaya buat berobatnya, atau tawa renyah Nenek Pinggirjalan karena dagangannya habis diborong mahasiswa. Juga saat menatapi para bocah dengan buku berwarna di tangan-tangan mungil nan polosnya.

Terakhir kali, ia muncul dalam angan-angan yang menggila. Dalam harapan untuk mengakhiri semuanya, lalu menjadi hantu yang bisa bebas terbang (?) kemana saja. Menuju tempat yang selalu ingin didiami lebih lama: toko buku favorit kita. Membaca buku-buku disana sambil duduk, berdiri, berbaring, selonjoran, kayang, menjuntaikan kaki diantara lemari-lemarinya, sambil sesekali menggoda pengunjungnya, tanpa perlu terlihat siapa-siapa. Tanpa perlu memikirkan batas waktu buat pekerjaan lainnya. Tanpa diburu kemungkinan-kemungkinan dunia yang fana, yang tak pasti esok lusa. Sepuasnya. 

Saban hari, ia datang saat Kau di sekitar sedang bercanda, bahkan saat tinggal hanya bayanganmu yang tersisa.

🍃🍃🍃

Tulisan super pendek ini dibuat untuk meramaikan givaway yang diadakan Bang Slamet dan Kak Rifa πŸ™‚

Batasnya tanggal 2 Juli, teman-teman yang lain ayo ikut jugaa 😆😆

#Mengejabahagia #Maknabahagia

Gambar via pinterest.com

Advertisements

21 thoughts on “Mengeja Bahagia

Add yours

    1. Iya Kaang, mepet yaa hihi.. πŸ˜‚

      Minder sebenernya, apalagi lihat tulisan Kang Nur yang keren tentang ini πŸ˜†πŸ˜†
      Tapi ndak papa lah yaa, pengen ikut meramaikan aja 😊

      1. Tulisan mbak tia juga keren koq…. Dari semua tulisan akan bisa dilihat betapa semua orang punya parameter tersendiri untuk menjadi bahag

  1. Semoga selalu berbahagia. Tapi diriku lihat gambarnya malah jadi takut. Lihat mata kanannya. Untung goresannya warnanya hitam.. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    1. Aamiin πŸ™

      Astaga ada yg ngeh juga sama gambarnya πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ sowrii Mb Suci πŸ˜†πŸ˜†

  2. Kak Tia, kalau suka baca-baca buku di toko buku, ndak pernah ditegur sama pegawainya ya? Di sini suka ditegur kalau bacanya sambil duduk atau selonjoran 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: