1 Ramadhan: Tarawih

Tarawih pertama di kota kecil ini, adalah rutinitas yang susah dilepas. Sudah hampir enam Ramadhan, dan selalu lebih banyak disini. Dinikmati saja, sebelum benar-benar dirindui, suatu hari nanti.  Jadi semalam itu semula sudah merencanakan tarawih pertama ke masjid kampung dekat sini saja, di sekitar kost. Tapi kawan kost, Lia, mengajak ke Islamic Center yang megah... Continue Reading →

Advertisements

Mencicip Gerah

Tulisan lama: sebuah cerita mini beserta kenangan dibaliknya. Semangat yang dulu itu, sebelum kemudian terseok sendu, kepala semakin dungu, tertindih bekuan rindu. Tsaah 💔 Selamat hari Jum'at, selamat menyambut Ramadhan 🙂 Berkali-kali kutelepon, Kak Juni belum juga datang. Baterai handphoneku habis. Handphone yang satunya tertinggal di rumah. Power bank lupa kubawa. Maka kuputuskan pulang sendirian,  berjalan kaki.... Continue Reading →

Adek Ima dan Sepatu Super

Sore yang seru: pulang ke rumah dan bermain dengan Adek Ima. Ditemani sepiring pisang goreng dan segelas susu cokelat sachet buatan bersama, kami duduk di depan TV. Sesekali TV 14 inci itu menggelap layarnya. Dengan sigap, Adek Ima akan menendangnya, lalu si TV hidup kembali. Diiringi ledakan tawa kami berdua.  Detik berikutnya kami sibuk membicarakan... Continue Reading →

Membaca Hati?

Aku membayangkan hati sebagai sebuah kumpulan lempengan tipis dengan tekstur kenyal berwarna merah marun, dijilid dengan temali berwarna hijau kebiruan serupa selang kecil yang didalamnya ada cairan berwarna merah terang. Lalu di sekitarnya tertempel pernik kekuningan berumbai-rumbai yang memantikkan listrik kecil -menyetrum sedikit saja- ketika disentuh. Sesekali cairan dalam tali selang kecil akan memercik halus,... Continue Reading →

Membubung

Oleh: Benn Rosyid Kumembubung Tinggi, di angkasa Yang membubungpun bukan aku Yang sedang menulis bait puisi ini. Tapi aku yang lain, Yang didalam topeng, yang saban hari berganti-ganti Kumembubung Tapi takut jatuh, pasti rasanya sakit sekali Berdebam keras, tidak diatas tanah Yang jatuhpun bukan aku Yang sedang berdiri dengan kaki gemetar ngilu ini. Tapi aku... Continue Reading →

Gelap

Ia ada dalam ketiadaan cahaya, terkadang dalam dada Ia mungkin memesona, membuat setitik cahaya merasa berharga Ia memberi tenang di tengah bingar dunia, kadangkala Ia mengajari meraba hari terbata-bata, kuat tanpa siapa-siapa Ia sering menemani dalam cemas dan duka, dicari dalam pejaman mata Ia mengajarkan pengorbanan: lilin dengan lelehnya Ia mengantar pada mimpi yang lelap,... Continue Reading →

Sepagi ini, kutemukan diriku yang tiada henti melawan malu. Atas segala janjiku padamu, untuk menjadi anak yang berbakti, memberimu sesuatu suatu hari, menjaga saudari-saudariku, juga ketangguhanku. Namun hingga hari ini, belum ada yang sempurna kupenuhi. Namun percayalah, Mak, seujung kukupun cintaku takkan pernah kukurangi. Selaksa do'a teruntuk engkau yang mengajari kami mengeja kehidupan, mengenal Tuhan,... Continue Reading →

…..

"Menatapi barang-barang lama ini seperti melihati dosa-dosa yang bertumpuk, berkarat, dan berdebu. Tugas kita adalah membereskannya, membersihkan, setiap hari seharusnya. Jangan tunggu disarangi kecoa dan tikus, bolong-bolong, ditengok hanya setahun sekali seperti kita ini.. " Mamak - 17/4/17 Teruntuk aku dan dakiku, bangunlah. Berdosa bukan berarti tidak ada yang sungguhan cinta. Aku dan Dia mencintaimu... Continue Reading →

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑